“Kesatria Baja Hitam”

Jaz Hayat 

INI bisa dibilang ketinggalan. Iya, memang demikian adanya. Atau bisa juga disebut jadul, istilah yang sering dipergunakan banyak orang untuk menyebutkan sesuatu yang sudah berlangsung lama.

AF7C70BF BAD3 4282 AED4 576CBA11EC98

Oleh: Devi Alamsyah*

Istilah “jadul” juga bisanya disematkan pada style seseorang, mode produksi, usia, hingga pola pikir dan akses informasi.

Kata “jadul” ini terlintas saat nonton final dan penutupan event Honda DBL (Developmental Basketball League) di GOR Segiri, Sabtu (3/8/2019) malam lalu. Saat MC menyebutkan kata “Jaz”untuk segera tampil, sebelum final putra antara tim SMAN 1 Balikpapan vs SMAN 2 Samarinda. Yang akhirnya dimenangkan SMAN 2 Samarinda dengan selisih skor 3 angka.

Semua orang tampak memperhatikan gerbang pintu masuk yang dibuat cantik dengan lampu dan ornamen lainnya khas DBL.  Tirainya masih tertutup. Pintu itu tempat keluarnya pemain saat akan bertanding.

Penasaran, apa yang akan keluar dari balik tirai itu. Penonton yang mayoritas para remaja, sudah ramai duluan. Sebagian malah mendekat ke arah gerbang bertirai hitam itu dengan mengacungkan handphone. Apapun yang keluar dari gerbang itu, langsung siap diabadikan.

Beberapa panitia berkaus merah justru sibuk menertibkan para penonton itu, agar jangan terlalu dekat dari gerbang.

Muncul lah sesosok yang dipanggil Jaz itu dengan mengenakan balutan baju khas olahraga basket. Dia menyanyikan lagu yang populer di tahun 1990-an. Penonton yang mayoritas ABG itu pun histeris.

Saya tanya. Kebetulan di sebelah duduk seorang jurnalis TV. “Siapa itu?”. tanya saya. “Kurang tahu juga bang. Tapi, orang tadi bilang namanya Jaz, gitu,” katanya. Padahal di antara para jurnalis, yang duduk di sebelah itu bisa dibilang update pada perkembangan kekinian. Ternyata, tidak tahu juga.

Oke, kita dengarkan lagunya. Apa yang hits. Biasanya walau samar-samar kadang pernah terdengar, baik via radio, TV atau dendangan seorang kawan. Yang dibawakan ternyata banyak lagu-lagu yang hits tahun 90-an, antara lain seperti “Inikah Cinta”, dan “Cantik” yang dirilis Kahitna. Grup musik yang digawangi Yovie Widianto, Hedi Yunus, Carlo Saba.

Lagu “Inikah Cinta” dulu dipopulerkan grup boyband asal Indonesia eMbung Eleh (ME) pada 1998. Setahun setelah boyband ini berdiri pada 1997. Salah seorang personelnya ada Denny Saba, adik dari vokalis Kahitna, Carlo Saba.

Setelah ditelusuri, ternyata Jaz adalah nama panggung dari Azis Hayat, pria kelahiran Brunei Darussalam 1993. Penyanyi ini merilis “Dari Mata” pada 2016 silam. Nah, kalau lagunya pernah terdengar, tak asing di telinga. Selain lagunya, ini mungkin salah satu daya tariknya Azis Hayat; muda dan ganteng.

Penyanyi yang dikenal dengan sebutan Jaz Hayat itu mengingatkan saya saat nonton grup band Gigi di Dome, Balikpapan, beberapa tahun lalu. Sama.  Di acara tahunan anak sekolah, Pensi. Mayoritas penontonnya para remaja usia SMA. Gigi saat itu merupakan band bintang tamu, sebelumnya tampil band-band remaja yang saya juga tidak tahu apa namanya.

Suasana tak kalah riuhnya dengan Jaz Hayat. Band-band remaja itu sungguh mendapat perhatian dari penonton. Berjingkrak dan bersorak, kemudian bernyanyi bersama. Lagu-lagunya pun hafal. Band itu memainkan alat musik seperti yang digunakan DJ (disc jockey), yakni vinyl atau piringan hitam, dan alat-alat digital lainnya.

Personelnya hanya vokalis sama player yang mengoperasikan piringan hitam itu dan alat digital lainnya. Dua orang. Sama ada tambahan satu vokalis lagi. Irit ya. Musiknya pun serba digital.

Saat giliran band Gigi, Arman Maulana cs, ternyata diluar dugaan. Lebih sepi dari sebelumnya. Yang ikut bernyanyi lebih sedikit. Sedikit sekali. Mungkin termasuk saya. Padahal seharusnya bintang tamu itu yang ditunggu-tunggu.

Padahal dulu, saat usia remaja seperti itu. Main musik dan memiliki grup band menjadi favorit. Anak-anak band terkenal dalam pergaulan. Apalagi yang sudah sering manggung. Nah, nanti grup band seperti itu bisa saja dianggap konvensional.

“Meski kita tidak tahu, tapi yang begini harus diikuti, bang,” kata si jurnalis tadi, berbisik. Betul. Karena ke depan mereka adalah pasar potensial, baik bagi industri musik atau industri lainnya. Kesukaan dan gaya hidup menjadi perilaku ekonomi masyarakat.

Perubahan perilaku tentunya akan mengubah pola pemasaran. Lihat saja merebaknya para youtuber dengan berbagai konten menarik; lucu, gila atau setengah nekat dan mungkin aneh, belakangan ini.

Bahkan artis-artis pun yang sudah populer di layar lebar dan dunia panggung, kini tak mau ketinggalan juga mulai merambah dengan membuka channel YouTube.

Fenomena Angga Chandra, yang nge-frank sambil bernyanyi, banyak penggemarnya. Bahkan mungkin saat ini, bisa lebih populer dibanding grup band Gigi yang sudah sering naik turun panggung. Angga Chandra tak perlu naik turun panggung, cukup bawa gitar dan kamera sama sedikit trik-trik gombal….mmmhhh

Terkenal tanpa melalui jalur-jalur konvensional. Pengikutnya sudah jutaan. Setiap aksi-aksinya ditonton lebih dari satu juta. Bayangkan jika itu konser. Lapangan mana yang bisa menampung massa sebanyak itu.

Perkembangan teknologi informasi mendorong perubahan yang sangat cepat. Ini mungkin yang disebut dalam teori post kolonial sebagai hibridisasi kultural. Percampuran budaya yang mengubah perilaku masyarakat. Saking cepatnya, terkadang kita tidak menyadarinya.

Haruskah kita menjadi Kotaro Minami, yang dengan satu kata: “Berubah..” jrenngg….akhirnya seketika itu pula menjadi Kesatria Baja Hitam. Setengah robot yang memiliki kekuatan dahsyat. Bisa mengalahkan monster yang entah darimana munculnya.

Akankah perubahan Kotaro Minami ini bisa lebih cepat dari perubahan yang disebabkan dunia digital? Mmhh.. tak semudah itu ya…

Bagaimana dengan Anda? Sudah siapkah menjadi Kesatria Baja Hitam?

Simak video terbaru dari Nomor Satu Kaltim:

Leave A Reply